Mbak, mbak sebentar.
Apakah mbak ingin gigi putih seperti saya?
Wati menunjukkan gigi putihnya kepada seorang wanita yg berjalan di trotoar
Gigi teman saya juga putih. Dini nyinyir kuda
Itu bukan cat kan? tanya si mbak
Wati menggeleng tidak. Lalu memprospek si mbak agar mau membeli odol inovasi baru perusahaannya.
Tidak lama kemudian, sekitar 5 menit, si mbak pejalan kaki langsung membeli odol yang ditawarkan
Wati. Closing berjalan mulus dengan pembayaran beberapa rupiah
Dini hanya geleng kepala, "Kok kamu bisa menjual secepat itu, ya, Ti? Saya dari tadi tidak ada yang
mau beli. Kamu udah laku 7 odol, saya belum." Dini menggerutu
Dini menggaruk2 kepalanya yang tak gatal setelah beberapa kali penawarannya ditolak orang-orang
yang sedang lewat di trotoar yang bising dan penuh asap pekat keluaran kenalpot kendaraan yang lalu
lalang. Plus sinar mentari yang terik menyengat kepala dan bikin orang tidak mau betah lama2
terpapar panasnya. Dini tidak habis pikir bagaimana Wati bisa menjual dengan cepat. Dilihatnya
wati dengan wajah ceria dan senyum lebar mengembang di wajahnya sedang menawarkan odol baru kepada
pelanggan walau tubuhnya terlihat kepayahan. Dan pelanggan dengan antusias berhenti dan
mendengarkan petatah petitih temannya yang cantik dan energik itu.
Dini masih tak ada satu orangpun yang sudi membeli darinya. Akhirnya Dini hanya melamun sambil menonton
aktifitas Wati yang masih semangat.
Wati melihat temannya yang duduk melamun dua ratus meter di halte bus di depannya. Wati
menghentikan aktivitasnya sebentar dan menyapa Dini,"Mengapa Dini, ayo semangat!"
Sepertinya aku tak bakat jualan Wati. Dari tadi saya belum bisa menjual satu odol pun. Keluh Dini
Dini, coba kamu tesenyum. Ayo tersenyum kepadaku.
Dini tersenyum lebar.
Kamu cantik, lho.
Senyum Dini semakin lebar
Nah, begitulah senyuman yang seharusnya kamu suguhkan ke costumer.
Tadi saya udah senyum begini. Tapi tetap aja tak ada yg beli
Tadi saya liat kamu tidak senyum begini. Tadi senyummu nampak tak ikhlas
Tak ikhlas gimana?
Senyum ikhlas itu harus sampai membuat kulit di sisi luar matamu berkerut.
Wati mencontohkannnya
Dini mengikuti
Lalu mereka berdua nampak seperti sedang training dadakan, Wati nampak aktif mementor Dini. Dini
pun semangat mengikuti.
Dini sekarang berubah dengan seunyum barunya, SENYUM IKHLAS
dengan bekal senyum itu, DIni menawarkan odol inovasi baru keluaran perusahaannya dengan semangat
dan antusias
Dia yakin, dengan senyum ikhlas kata2 yang keluar dari mulutnya juga akan mengalir apa adanya dan jujur
sehingga pelanggan tertarik kepada tawarannya
akhirnya satu dua orang ada juga yang tertarik mendengarkan tawarannya
setelah lima orang dia tawarkan, akhirnya orang kelima membeli odol yang ditawarkan DIni
Hore!!! Terima kasih pak.
si bapak kaget dan melongo melihat gadis belia yang baru saja menjajakan odol itu
Dari kejauhan wati terlihat senang.
TAMAT
No comments:
Post a Comment