Rindu Emak




Kebakaran! Kebakarang! Salah seorang meneriaki api yang telah menyambar rumah Risa. Orang-orang berhamburan membawa air seadanya ke arah rumah sahabatku itu. Aku tengah merengsek lewat dapur untuk mencari Risa. Dan Aku hanya bisa mendengar suaranya minta tolong. "Tolong Budi! Aku terjebak di kamar!"
Mbak Yati hanya mendesah. Bukannya tak tau apa yang dirasakan perempuan tua itu. Bertahun-tahun menjadi tetangganya, dia paham betul apa yang selama ini mengganjal pikirannya. Bukan gubuk tua yang semakin hari semakin lapuk. Bukan pakaiannya yang tak pernah baru. Bukan pula usia yang samakin menggerogoti tubuhnya. Jauh di dalam sana, mbak Yati tau. Sebongkah rasa telah bertahun-tahun dipendamnya. Sebelas tahun yang lalu. Saat mereka berpamitan untuk pergi keluar kota.

“Rizal mau cari uang yang banyak buat Emak.”
“Marni juga. Marni nggak mau terus hidup seperti ini. Kita harus berubah.”
“Aku mau cari usaha baru, yang penghasilannya banyak,” kata Rasti.
Ya, sebelas tahun yang lalu. Ketiganya pergi meninggalkan Emak. Sebenarnya Emak tak rela mereka jauh-jauh. Tapi karena mereka memaksa, akhirnya Emak mengizinkan mereka pergi.
“Hati-hati..”
Hanya itu yang diucapkan Emak. Air matanya mengalir. Rasa khaawatir tergambar jelas di raut mukanya. Bertahun-tahun tak ada kabar yang didengarnya. Tak satu pun menengok keadaan Emak di gubuk tuanya. Bahkan sampai saat ini, saat Emak merasa jatah usianya semakin berkurang. Terkadang Emak menangis. Terdengar isakan tangisnya sampai ke telinga mbak Yati. Tangis kerinduan Emak kepada mereka. Lain waktu Emak terlihat tersenyum sendiri. Mengingat masa kecil mereka dan tingkah lucu yang selalu mereka buat. Kenakalan mereka saat kecil sedikit menghibur hatinya yang sesak.
“Mak, mbak Marni nakal. Masa mainanku diambil, huhuhu…”
“Enak aja, aku nggak ngambil kok. Rasti lupa kali nyimpennya,” sungut Marni.
“Sudah-sudah. Tentang mainannya nanti lagi. Yuk kita makan dulu. Loh, mana masmu?”
“Mas Rizal lagi cari kayu bakar di belakang Mak,” jawab Marni.
“Ya sudah, Emak panggil masmu dulu. Kalian di sini ya,” pinta Emak sambil tersenyum.

Air mata Emak kembali mengalir. Semua itu hanya dulu. Ya, dulu saat mereka bersama. Dulu saat mereka masih kecil dan begitu menurut apa yang diperintahkan Emak. Rasti yang manis, Marni yang pemberani, dan Rizal yang rajin dan selalu membantu Emak. Semua telah pergi meninggalkan Emak. Tak ada yang ingat Emak, satu pun.

“Kan mereka cari uang buat Emak juga,” hibur mbak Yati.
Emak tediam. Pandangannya jauh ke depan. Entah tertuju ke mana. Rambutnya yang semakin memutih ditelan usia bergerak seiring terpaan angin.
“Bukan itu yang Emak inginkan, Ti. Bukan itu….” Emak kembali terdiam.

Mbak Yati pun tak tahu apa yang harus dilakukannya. Ikut diam, menunggu apa yang akan diucapkan Emak selanjutnya.
“Emak tidak butuh uang mereka. Toh, tanpa semua itu Emak juga masih bisa makan. Bisa tercukupi kebutuhan Emak walaupun cuma seadanya. Emak cuma pengen mereka pulang. Emak pengen melihat mereka. Sekali saja, sebelum Emak mati…”
“Mak, kok ngomongnya gitu?” potong mbak Yati.
“Umur nggak ada yang tahu, Ti. Emak ini sudah tua. Dan sebentar lagi bakal mati. Emak sudah nggak kuat.”

Emak menangis. Terisak. Dadanya sampai berguncang-guncang. Tergambar jelas begitu dalam kerinduan yang dirasakannya. “Ah, Emak. Apa yang bisa ku lakukan? Andaikan aku tahu di mana mereka, akan ku suruh mereka pulang menemuimu. Melihatmu yang begitu merindukan mereka. Anak-anakmu yang sudah kau besarkan dengan susah payah. Hanya seorang diri. Tanpa suami yang telah pergi dan tak mungkin akan kembali lagi. Sungguh malang nasibmu, Mak…” Emak terus menangis menumpahkan semuanya. Ya, kerinduan yang selama ini dipendamnya.


Laki-laki itu tertunduk di meja kantornya. Tiba-tiba saja pikirannya melayang tak menentu. Terbayang olehnya pohon kelapa di depan rumah yang berbuah sangat lebat. Ranting-ranting kayu yang berserakan. Kakinya yang sering terluka akibat tergores kayu saat kecil dulu. Adik-adik yang disayanginya. Dan terakhir, senyum tulus dari sosok yang tiba-tiba sangat dirindukannya. Wajahnya yang lembut penuh keibuan. Tegas, tapi tak pernah sekali pun memarahinya. Sederhana dan penuh kasih sayang.
“Ah, Emak.. seperti apa sekarang?”
Bertahun-tahun dia meninggalkan Emak seorang diri. Tak pernah mengabari.

“Rizal mau cari uang yang banyak buat Emak…”
Bahkan janji itu pun belum pernah ditunaikan olehnya. Sekalipun. Dia merasa bersalah. Hari pernikahannya tak pernah sampai ke telinga Emak, karena dia tak mengabari. Hingga buah hati hadir dalam kehidupannya, masih tak ada berita. Sibuk, tak ada waktu. Mungkin itu alasan yang tepat bagi seorang pengusaha sepertinya. Tapi entah mengapa, kerinduan itu begitu dalam dirasakannya.

Dia ingin pulang menengok Emak. Meminta maaf karena telah meninggalkan Emak begitu lama. Dia akan mengajak Emak pindah ke rumahnya. Rumah besar hasil kerja keras dan usahanya selama ini. Tekadnya sudah bulat. Tak dibayangkannya apa yang tergambar jauh di tepian sana. Gubuk tua yang nampak semakin tua yang hanya diterangi lampu sentir. Kini tak terdengar lagi ada suara orang mengaji di dalamnya. Begitu sepi. Hanya sesekali terdengar suara batuk dan bunyi jeritan dipan yang nampak rapuh dimakan usia.

Sudah hampir satu bulan Emak tak ke luar rumah. Tubuhnya yang mulai sakit-sakitan memaksanya untuk tetap terbaring. Badannya semakin kurus. Setiap hari mbak Yati bolak-balik dari rumahnya ke gubuk Emak. Menyuapi Emak dan mendengarkan keluh kesah yang ditumpahkannya.
“Emak tinggal saja di rumah Yati. Biar lebih enak. Kan Yati juga bisa terus jagain emak. Nggak bolak-balik terus,” pinta Yati
Emak yang dulu selalu membantunya. Yang sudah dianggapnya sebagai orangtua sendiri. Tapi dasar Emak, tak bisa dipaksa lagi.

“Biarlah Emak di sini, Ti. Emak nggak mau kemana-mana. Ini rumah Emak. Bertahun-tahun sejak Emak menikah dulu sampai sekarang. Banyak yang sudah Emak rasakan di sini. Tidak hanya kebahagiaan, tapi juga semuanya. Kalau kamu sudah bosan merawat Emak, nggak apa-apa. Emak nggak akan minta bantuan kamu lagi. Emak merasa waktu Emak tidak lama lagi.
“Anakku.. kapan kalian pulang? tengok Emak..” Emak terisak. Dipegangnya selimut kuat-kuat. Menahan lautan yang hampir tumpah dari kedua bola matanya. Dan kini, lautan itu benar-benar telah tumpah.

“Belum lama, Zal. Baru seminggu yang lalu,” kata mbak Yati. Matanya berkaca-kaca.
Laki-laki di depannya diam seribu bahasa. Batinnya menjerit, namun mulutnya tak mampu berkata apa-apa. Berombak penyesalan serasa bergumuruh di dadanya.
“Emak selalu bilang, tak butuh uang kallian. Emak cuma pengen kalian pulang menengok emak di sini…” ada setetes air jatuh di pipi mbak Yati.
Laki-laki itu semakin menunduk. Tangannya mencengkeram dipan tua itu kuat-kuat. Ya, dipan terakhir yang menjadi saksi istiriahatnya Emak untuk selamanya. Air matanya terus meleleh.
“Emak merindukan kalian, bahkan teramat sangat,” lanjut mbak Yati.
Tubuh laki-laki itu gemetar.
“Emak tetap ingin di sini menunggu kalian sampai kapan pun. Kau tahu, Rizal, tak ada yang diinginkan Emak selain itu. Emak sering menangis dalam salatnya, begitu setiap hari. Dan seminggu yang lalu…” mbak Yati berhenti.

Kini tak hanya setetes air mata yang jatuh di pipinya. Mbak Yati menangis tersedu-sedu. Bibirnya bergetar. Tak mampu melanjutkan kalimatnya. Tak ada yang bisa merasakan ribuan penyesalan yang kini tengah melanda laki-laki itu. Dia merasa menjadi anak yang paling durhaka. Mbak Yati menyeka air matanya. Mencoba menguatkan hatinya untuk bisa berbicara.
“Semuanya terlambat. Emak tak mungkin kembali lagi. Apakah semua itu tak pernah kau rasakan, Rizal! Mana bukti baktimu! Bertahun-tahun, Zal, Emak menunggu. Dapatkah kau bayangkan… bahkan hingga detik terakhir, tak ada kata lain yang Emak ucapkan. Emak pengen kalian pulang. Menengok Emak, itu saja, Zal.. tidakkah semua itu kau rasakan?!!” Mbak Yati kembali terisak.

Walaupun bukan siapa-siapa, tapi semua itu bisa dirasakannya. Kerinduan yang teramat sangat dalam hati Emak, belum terobati. Kerinduan itu telah dibawanya pergi. Meluap sudah penyesalan yang dirasakan laki-laki itu. Dia berlari sekuat tenaganya. Tak peduli, dan terus berlari. Sebuah gundukan tanah kini tepat berada di hadapannya.
“Emak…” suara itu teramat lirih, bercampur dengan air mata dan gemuruh di dadanya. Nyaris tak terdengar.

source:cerpenmu.com

No comments:

Post a Comment