Mengapa dunia membisu padaku?Tak bisa kudengar derai hujan atau desah angin. Tak tahu seperti apa dengung kumbang yang mengelilingi bunga-bunga. Atau derik serangga malam hari. Benarkah mereka bersuara seperti yang diceritakan ayah atau didongengkan ibu. Kicau burung hanya ada dalam gerak mulut orang tuaku. Pastinya seperti apa tak kupahami. Suara ayah ibu pun entah seperti apa.
Apa ibu memanggil namaku dengan lembut? Apa tawa ayah keras atau pelan. Aku hanya melihat bibir ibu bergerak menipis lalu terbuka. Saat itulah aku paham ia sedang memanggil namaku. Dan tawa ayah hanya kupahami lewat baris giginya yang terlihat. Yang pasti ayah selalu tersenyum bila memanggil namaku.
Aku melihat alam selalu bergerak dalam kesunyian. Kala hujan deras disertai angin melanda halaman rumah. Ranting-ranting terlihat patah, pohon bergoyang tumbang. Daun berserakan diacak angin yang tak peduli arah. Namun dalam gerak alam yang sedahsyat itu tak kudengar apa pun. Bahkan petir pun hanya sebuah kilatan cahaya di langit yang tetap saja sepi.
Sejak awal hidup tak dapat kudengar apapun. Aku hanya melihat gambar bisu. Seperti film kuno yang hanya dipenuhi gerak tak bermakna. Tak kumengerti dunia. Tak kupahami kata orang tuaku. Tak dapat kusampaikan keinginanku. Aku terpenjara ketidak sempurnaan indera.
Keadaan yang tak pernah diduga orang tuaku. Sejak aku bergelung melengkung dalam rahim. Ayah ibu selalu berdoa untuk kebaikanku. Sebab aku adalah anak pertama yang sangat dinantikan. Ibu telah merawat kehamilannya dengan benar. Tak ada yang terlewat. Makan sehat penuh gizi. Vitamin lengkap yang diresepkan bidan. Hingga jamu paling pahit pun diminum ibu. Semua demi aku. Buah hati yang begitu dirindukan. Ketika mengandungku, kuyakin ibu telah melakukan semua yang terbaik. Lalu kenapa aku terlahir begini?
Padahal begitu lama ayah ibu menantikanku. Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar. Banyak yang telah diupayakan untuk mendapatkan keturunan. Tanpa lelah ayah ibu berusaha keras demi kehadiranku ke dunia. Tengah malam ayah ibu melantunkan doa khusus, memohon anak dari Sang Kuasa. Pagi setelah sarapan ibu rutin minum obat penyubur kandungan. Ayah berpantang makanan yang dipercaya menghambat pembuahan. Begitu sempurna semua upaya. Tapi setelah lahir, aku tak sesuai harapan. Aku bayi yang tak lengkap.
Mereka pasti kecewa dengan kekuranganku. Tapi mereka begitu tegar dengan masalahku yang tanpa pemecahan. Sabar menerima keadaanku. Tak pernah sekalipun mengeluh. Nrimo dan tak saling menyalahkan. Bukan bibit ayah yang jelek atau rahim ibu yang buruk. Keduanya justru semakin merapat kompak. Sepakat untuk mengatasi kekuranganku. Tidak dengan cara yang aneh atau tak masuk akal. Tidak pula dengan menyembunyikan kecacatanku. Berdua bahu membahu demi aku.
Setelah sekian lama bekerja keras demi kelahiranku, ayah ibu harus kembali bekerja keras untuk menaklukan cacatku. Perjuangan yang tak putus. Panjang sepanjang hidupku selanjutnya. Bisa dibilang setiap tarikan nafasku adalah kerja keras ayah ibu. Menyulutkan api di dadaku. Agar aku memiliki semangat dan dapat tegak berdiri di atas kedua kaki. Kurang tak berarti hilang. Aku ada dan berusaha mencatatkan diri pada dunia, walau dengan segala cacatku. Itu yang terus ditanamkan ayah ibu di dalam mentalku.
Sekali lagi beribu cara dilakukan. Segala informasi yang tak mudah ditemukan pun dicari. Dokter ahli hingga pengobatan alternatif di lereng gunung didatangi. Semuanya untuk kesempurnaan inderaku. Walau tak ada cacatan pasti tentang segala daya upaya orang tuaku. Yang pasti kutahu mereka menyayangiku. Mencintaiku, sejak aku masih berupa janin tanpa ingatan dalam rendaman ketuban.
Sesungguhnya aku sendiri pun tak mau lahir dalam keadaan ini. Jujur aku pun sangat kecewa ketika sadar pada keadaanku. Namun melihat semangat ibu, kegigihan ayah menyembuhkanku. Aku pun tak mau melemah. Kutakut mereka akan lebih terluka lagi. Punya anak cacat yang cengeng pula. Sering kutahan airmata demi menyenangkan mereka. Padahal sedang sangat sedih karena menginginkan sesuatu tapi tak ada yang mengerti mauku. Aku menjadi pendiam dan sangat pasif. Kadang juga marah-marah tak karuan.
Kubanting gelas untuk mengatakan ‘tidak mau minum jus itu, aku ingin susu’. Kurobek baju baru yang ibu belikan buat menyampaikan ‘aku tak mau pakai, warnanya tak suka’. Aku pun pernah menangis seharian hanya karena menginginkan permen coklat dari warung sebelah. Aku menggerakkan tanganku dengan kacau, menunjuk-nunjuk ke luar. Tapi ayah ibu tetap tak mengerti. Aku mengamuk. Melonjak-loncak tak karuan. Membantingi barang-barang. Menggedor pintu, jendela. Menggebrak meja kursi yang sedang ibu duduki. Ibu menggeleng, ayah mengangkat bahu. Menjengkelkan! Betapa sulit menginginkan sebutir permen saja.
Sakit sekali hati rasanya. Sulit sekali mendapat hal kecil yang bagi anak lain tinggal berucap satu kata saja. Permen! Tapi untukku memerlukan banyak energi. Menguras batin kedua orang tuaku. Aku sedih. Semua serba berbatas. Seperti berada dalam toples kaca. Tertutup rapat kedap suara. Aku melihat segalanya namun tak mendengar apa-apa. Ayah ibu hanya bisa memandang dari balik kaca. Sambil terus berusaha memahami semuanya. Kemurungan mulai melanda. Aku putus asa.
Ayah ibu tanggap dengan kondisi psikisku, setelah konsultasi dengan banyak orang. Psikolog hingga orang tua lain yang memiliki anak sepertiku. Perlahan mereka mulai menemukan cara untuk berkomunikasi. (Solusi) Aku diajari cara memegang pensil dan bolpoin. Ayah menggambar kue, es krim, atau permen. Kutunjuk salah satunya. Lalu aku belajar menggambar benda-benda. Kami bergantian menggambar. Ibu memberikan pensil warna. Untuk memudahkan memilih sesuatu yang berwarna. Pilih gambar kaos merah atau kuning? Aku mengacungkan pensil merah. Esoknya ibu membelikanku t-shirt merah dengan gambar bunga-bunga. Aku melompat kegirangan. Kali ini tak salah. Tepat seperti yang kuinginkan!
Aku mulai merasa nyaman dan tenang. Kebesaran hati dan keikhlasan ayah ibu benar-benar membuatku ingin maju. Tanpa jeda yang berarti, terus diajarkan cara paling aman untuh menempuh hidup yang berbeda ini. agar dapat kuraih kesempatan yang sama dengan anak lain yang normal. Aku mulai belajar untuk bertahan hidup dengan segala kelemahanku. Aku berdamai dengan kecacatanku.
Kukira tak seorang pun di dunia mau terlahir dalam keadaan tunarungu. Tak juga aku.
Dengan saraf telinga yang lumpuh sejak lahir. Tak bereaksi pada denting spatula yang diketuk dekat daun telinga. Lidahku menjadi bodoh. Tak mampu mengucapkan kata karena tak kudengar apa-apa. Lidah hanya menjadi alat bantu bagi mulut untuk mengunyah dan mencerap rasa tanpa bisa menyebut rasa. Asin manis hanya ada dalam pikiranku. Terkunci oleh kebisuanku.
Lalu tibalah suatu masa yang mengubah segalanya. Ibu pindah kerja ke luar kota. Seminggu sekali pulangnya. Ayah tugas belajar ke luar negeri. Dua tahun lamanya. Aku dititipkan pada eyang. Eyang kakung paling perhatian padaku. Aku cucu yang selalu di istimewakan. Dari beliaulah aku belajar menangkap makna kata. Eyanglah yang dengan setia mengajari teknik baru berkomunikasi. Beliau sangat kreatif. Banyak media yang digunakan. Selembar koran bekas pun bisa menjadi alat. Eyang memperlihatkan gambar-gambar di atasnya. Aku tak perlu menggambar sendiri. Tinggal tunjuk saja. Lebih cepat dan praktis. Apalagi semakin besar makin banyak keinginanku.
Tak cuma permen, es krim atau roti. Yang mudah digambar. Aku menginginkan apel, jeruk, atau jambu. Semuanya berbentuk bulat. Gambarnya hampir sama. Sering menimbulkan salah paham. Pernah kugambar semangka, eyang putri membelikan melon. Aku tak menangis tapi tak juga mau memakannya. Eyang kakung mengguntingi gambar-gambar dari koran atau majalah lalu menempelkannya di buku tulis. Kubawa buku itu ke mana-mana. Supaya mudah menunjukkan keinginanku.
Setelah cukup umur aku masuk SLB. Diajari membaca, menulis dan berbicara. Betapa terkejutnya aku ketika kusentuh tenggorokan bu guru. Lehernya bergetar ketika membuka mulut. Aku tak pernah tahu bahwa leher bisa bergetar seperti itu ketika membuka mulut. Dan aku pun menirukannya. Berulang-ulang hingga ia mengacungkan jempol pertanda benar dan tepat. Vokal pertama yang lancar kuucap adalah “ee…”.
“Je-ruk.” Di tunjuk gambar jeruk di dalam buku di hadapanku. Mulutku mengikuti gerak mulutnya dari cermin di hadapan kami berdua. Tak lupa menyentuhkan tanganku di lehernya untuk merasakan resonansi yang pas. Aku juga belajar bahasa isyarat. Secara khusus eyang kakung ikut mempelajarinya, agar mudah berkomunikasi denganku.
Di rumah eyang memberi buku-buku. Setiap menjelang tidur eyang membuka-buka buku penuh gambar warna-warni di tempat tidur. Menjelaskan padaku dengan bahasa isyarat. Mengajakku membaca dongeng-dongeng indah sampai selesai. Tak ada satu kalimat terlewat. Kisah-kisah yang kemudian berlanjut menjadi mimpi indah dalam tidurku.
Ulang tahunku yang kesepuluh bertepatan dengan kepulangan ayah dari luar negeri. Ia sudah selesai kuliah. Gelar di belakang namanya bertambah. Oh, bangganya aku pada ayah. Selain oleh-oleh, ayah memberiku hadiah sebuah benda yang asing. Warnanya merah mengkilap, warna yang kusuka. Seperti buku benda itu bisa dibuka di tengah. Ada banyak tombol penuh huruf di dalamnya. Ayah menancapkan kabelnya lalu benda itu pun menyala. Pada layar muncul gambar kartun lucu yang kusuka. Aku tersenyum senang. Lalu ayah memencet beberapa tombol.
“Selamat ulang tahun Fiezza.” Benda itu berbicara padaku. Layarnya berkata-kata. Aku diam sesaat. Ayah membimbing jari-jariku memencet huruf-huruf.
“Nama saya Fiezza.” Itulah kalimat pertama yang kutuliskan. Ibu memelukku. Eyang kakung mencium keningku. Eyang putri bersorak senang. Hari itu hari terindah untukku.
“Hari ini Fiezza ulang tahun, ayah kasih hadiah laptop. Supaya Fiezza bisa menulis apa saja yang ingin disampaikan” Begitu tulisan yang tertera di layar. Aku mulai mengerti. Benda ini akan menjadi jembatan untuk berkomunikasi. Setelah itu ayah mengajariku fungsi-fungsi laptop. Aku senang sekali. Aku menuliskan banyak kata. Sudah lama aku ingin bercerita. Mengomentari rambut nenek misalnya. Atau berkeluh ketika diganggu teman.
Tak hanya itu saja hadiah yang kuterima. Ada benda lain yang berkabel juga, yang menjadi hadiah utama. Dibungkus dalam kotak kecil berpita. Sama seperti sebelumnya aku pun asing dengan alat itu. Ibu memasukkan ujungnya ke telinga kiriku. Ujung lain kira kira sebesar kotak korek api disematkan di bajuku. Lalu eyang kakung menempelkan headphone pada telinga yang dipasangi alat. Apa yang kurasakan setelah itu tak kan pernah kulupakan selamanya. Ini adalah sejarah penting dalam hidupku.
“Selamat ulang tahun Fiezzaaa…!” lalu ada gelak tawa. Oh seperti itukah suara tawa? Saking terkejutnya headphone sampai jatuh kutepis. Aku kaget ketika pertama kali mendengar suara. Aku menatap ayah ibu dengan bingung.
“Itu Mbak Indah dan Dik Dini. Sepupumu di Lampung.” Ayah menjelaskan lewat laptop. Setelah itu aku merasa gendang telingaku berdengung. Banyak suara yang masuk tiba-tiba. Kulepas alat itu. Sepi seketika. Kupasang lagi. Riuh berikutnya. Aku menatap ayah.
“Panggil Fiezza.” Kataku. Bisa kudengar suaraku sendiri.
“Fiezza sayang.” Sambil dielus kepalaku. Oh seperti itukah suara panggilan ayah. Ini kali pertama setelah satu dasa warsa. Panggilan ayah yang hanya bisa kulihat dalam gerak bibir dan senyumnya. Lengkap kumengerti. Lembutnya sampai ke dalam hati. Bagaimana dengan ibu? Eyang kakung, dan eyang putri? Satu persatu kuminta mereka berbicara. Apa saja. Aku sangat ingin tahu suara mereka.
Betapa merdu nyanyian ibu ketika mandi. Aku sering ikut menyanyi bila kebetulan lewat kamar mandi. Lucu sekali suara batuk eyang kakung. Betapa cerewetnya nenek menawar bayam pada tukang sayur. Televisi, radio, bahkan kompor gas menjadi bernyawa. Semua berbicara. Bisa kudengar kini desis api yang menyembur dari kompor menyala. Dunia tak lagi sunyi. Debur ombak, hujan, riuh angin menjadi biasa di telingaku. Daya tangkap dan pemahamanku meningkat seiring runtuhnya dinding kaca yang memenjarakanku dalam kebisuan kata-kata.
Sejak itu laptop menjadi sahabat utamaku. Dan alat bantu pendengaran adalah pengganti inderaku yang hilang. Banyak waktu kuhabiskan untuk bermain game atau menonton film. Internet menjadi jendela untuk membuka pikiran. Berlama-lama berselancar di dunia maya untuk menambah pengetahuan. Semuanya menjadi menyenangkan. Aku bisa asyik berjam-jam mengobrol dengan teman di ujung dunia lain. Saling bertukar cerita tentang negeri masing-masing. Membagi banyak pengalaman hidup. Mereka menyatakan salut, ketika mereka tahu aku seorang tuna rungu.
“Excelent! You are so smart!” komentar Chaty, sahabat dari Australia. Dalam jaringan pertemanan kami. Lama-lama aku jadi bisa berbahasa Inggris. Dibimbing ayah tentunya. Pengalaman belajar di luar negeri membuat ayah lancar berbahasa Inggris. Bertambah satu lagi ilmuku.
Tak hanya itu yang kulakukan dengan laptopku tercinta. Kutuliskan mimpi, cita-cita, khayalan dan kenangan. Kucatat hari-hariku. Kegiatan, pendapat, pemikiran, apa saja yang bisa kutulis. Kadang aku berkisah tentang peri kecil ajaib yang hidup di semak belukar. Pernah juga tentang kesedihanku melihat padi siap panen yang terendam banjir. Ujung bulirnya mengapung lalu kemudian membusuk. Kasihan petani gagal panen menderita banyak kerugian. Bagaimana caranya makan atau menyekolahkan anak-anak mereka? Berhari-hari aku merenungkannya. Kusampaikan catatanku pada eyang kakung. Eyang senang sekali membacanya. Tekun dibaca sambil mengangguk- angguk.
Suatu hari eyang mengirimkan sebuah catatan tentang impian masa depanku, pada majalah ibu kota. Dan dimuat! Bayangkan seluruh negeri membaca tulisanku. Ayah ibu bangga padaku. Api itu telah menyala. Berkobar penuh semangat di dadaku. Telah berhasil kudobrak penjara kata-kata. Kutembus tempurung yang mengungkung pikranku. Tak pernah kudengar suara dengan sempurna tapi kumengerti tiap pertanda. Bisa kusampaikan apa pun pada dunia. Dan alam menorehkan semuanya dalam huruf-huruf penuh makna. Aku boleh terlahir tak sempurna tapi aku selalu istimewa. *TAMAT
(Dita, Juara II Lomba Menulis Cerpen Tingkat Nasional)
Dita (penulis cerpen ini) dengan baik membuka cerpennya dengan menyuguhkan masalah yang harus tokoh utama selesaikan (Struktur Cerpen pertama: Menunjukkan masalah).
Pembukaan diawali dengan konflik batin tokoh utama yang tidak puas dengan cacat pendengaran yang dialaminya sejak lahir. Huruf tebalpada paragraf 1 (P1)pada kalimat pembuka di paragraf pertama mewakili hal itu.
Sambil tetap menyuguhkan masalah, Dita lalu menggambarkan karakter yang terlibat di dalam cerita (Struktur Cerpen ke 2: Pengenalan Tokoh).
Dita mengenalkan sifat tokoh utama, aku, sebagai anak yang penuh kebingungan akan KONDISI dan apa yang diALAMi telinganya.(Perhatikan kata yang saya beri huruf kapital: Kondisi dan Alam. “Kondisi” mewakili diri tokoh. “Alam” mewakili lingkungan.
Kita dapat merasakan keadaan ketulian mulai sejak paragraf pertama sampai akhir cerita. Pada P1 kita bisa melihat contoh kata yang mewakili keadaan bisu seperti: membisu, tak bisa kudengar,Suara ayah ibu pun entah seperti apa.Kita juga bisa lihat contohnya seperti kata: Kesunyian, tak kudengar, sepi (seperti pada P3).
Mengenai karakter tokoh ayah dan ibu, penulis menggambarkannya pada P2.Dita menggambarkan karakter ibu dan ayah dengan manusia yang penuh cinta.
Ibu digambarkan sebagai sosok yang lembut dan ayah adalah sosok yang penuh kasih. Kita bisa menemukan sifat itu pada kata “Lembut” dan “tawa” yang saya beri huruf tebal pada P2.
Konflik sudah dimulai
sejak P1, P2, P3, P4 dan P5
Konflik lagi
Memulai Evaluasi
(Penulis menyela-nyela antar evaluasi dan konflik meskipun konflik belum selesai)
Evaluasi 1: Pengobatan Alternatif
(Penulis menyela-nyela antar evaluasi dan konflik)
Evaluasi (Penulis menyela-nyela antar evaluasi dan Konflik)
konflik memuncakdan semakin tajam
pada P10
KLIMAKS ditandai dengan kalimat:
Aku putus asa.
Kembali Evaluasi
Evaluasi
Sedang Evaluasi, Menemukan Solusi
Sedang Evaluasi, Menjalani Solusi
Sedang Evaluasi, Menjalani Solusi. Paragraf-paragraf di bawah ini sampai P31 berisi hal yang sama. Tokoh utama sedang menjalani terapi melawan tuli.
Sedang Evaluasi, Menjalani Solusi
Resolusi
Cerpen yang baik cerpen yang mendatangkan manfaat, mengandung pesan pesan yang menginspirasi khalayak pembaca.
Kasih.
"Lihat adik, kakak bawa apa ini?", abror si bungsu
spontan , " mau mau kak, bagi dong!" Kasih pulang sekolah bawa
makanan dan memamerkan kepada adiknya. Tapi dia hanya memamerkan saja tidak bermaksud mengasi pada adiknya. Kasihpun senang suasana seperti itu. “ duh.. enaknya, duh.. enaknya, mmh
..mmh.. “ dicium cium berulangkali, agar yang melihat tergiur. Karuan saja, adiknya menjadi rewel, tak mau berhenti. Akhirnya
adiknya diam , ga ambil pusing dengan dia, kembali dengan mainnya. Ketika
adiknya diam sibuk dengan mainannya, tiba tiba mainan adiknya direbut dibawa
lari. “kakaaaaak, jangan, kembalikan” Sibungsupun menjerit histeris minta
mainanan nya kembali. Dan menangis sejadinya. Serumah terkejut, langsung
memburu suara. “ Kasih kenapa adik”. Ibu dengan muka kaget bertanya ke Kasih.
Dengan santai dan acuh Kasih menjawab tak ambil pusing “ Tau tuh”. “ Abror
kenapa nak”. Sambil menangis, “kak Asih, “ “ Ya kenapa”, “ Mainan Abon di
ambil” . “ Sih, nak”, ibu menengahi, “ kasihan adik, nangisnya sampai begitu.
Tolong amal solih kembalikan, sayang”. Kasih menjawab, “ Asih tidak tau, apa
masalahnya”. Kasih seperti biasa, tidak mau tanggung jawab “
Ya sudah, tapi kalau bermain sama adik jangan saling menyakiti, kasihan dia belum paham, nak”, ibu nasihat dengan menyabarkan diri.
Ya sudah, tapi kalau bermain sama adik jangan saling menyakiti, kasihan dia belum paham, nak”, ibu nasihat dengan menyabarkan diri.
“ Bon, yuk nak, kita cari mainannya”. “ Abror bangkit sambil
mengulurkan tangan minta disambut, dengan mata merah belepotan air mata
bercampur hingus dari hidung, dan air liur. Kasih sebenarnya sayang sama
adiknya, tapi caranya aneh. Mungkin dia gemes lihat adiknya lucu, tapi kalau orang lain tidak
memperhatikan dirinya, pasti jadi kacau. Padahal
Abon sudah berumur 5 tahun sementara Kasih sudah tidak kecil lagi sudah SMP
kelas 2. Dan masih punya adik bernama Ayu 2 tahun dibawahnya. Yang satu ini
moderat , suka membantu ibunya. Bahkan tetangga sangat suka padanya, karena dia
suka membantu tetangga juga, kalau dilihatnya perlu bantuan, dia entengan. Kadang
kadang serumah kehilangan dia , tiba tiba sore pulang sambil bawa bingkisan. “ MasyaAllah....,
Ayu habis dari mana serumah mencari”, “maaf ibu, dibawa mamah,kata mamah sudah
ijin”. Mamah adalah tetangga sebelah
panggilan sebanding dengan tante. Rupanya hari itu dia “diculik mamah”.
Namun Kasih harus diperhatikan lebih dari yang lain. Tidak ada kata “salah”, untuk menasihati dia. Kalau kita salah bicara, dengan memasukkan kata " dia salah", itu terjadi alamat tragedi mogok makan bakal muncul, semua orang dicembruti, muka ditekuk. Dia selalu nomer satu. Ayu tidak boleh dibilang cantik, didepannya, bisa “kiamat” suasana.
Namun Kasih harus diperhatikan lebih dari yang lain. Tidak ada kata “salah”, untuk menasihati dia. Kalau kita salah bicara, dengan memasukkan kata " dia salah", itu terjadi alamat tragedi mogok makan bakal muncul, semua orang dicembruti, muka ditekuk. Dia selalu nomer satu. Ayu tidak boleh dibilang cantik, didepannya, bisa “kiamat” suasana.
Suatu hari Kasih datang menemui ibunya, sambil bisik bisik.
“ Bu, kata bu guru Asih , Asih cantik”. “ Kasih cantik kan bu?” “Lha ya anak
siapa dulu",kata ibu, "tapi kecantikan, akarnya juga ada pada hati kita,nak ”, ibunya
nimpali. Entah kenapa “sang ibu “ , kepleset atau bagaimana , atau ingin
bercanda, ibu njeloteh “ tapi Ayu selalu
ayu”. Ga taunya “ Ayu dan Abror ada
disitu juga, muncul dari belakang tanpa diketahui mereka. : “He ..he..he”, Ayu
tersenyum menunduk. Ibunya kaget. “ Tadi Ibu bilang Kasih cantik” . Kasih kesel
“ Ya, betul”, kata ibu. Tapi kan Ayu, biar marah, dipanggilnya tetap Ayu” kata
ibu sambil tersenyum, sudah merasakan ada gejala. Benar saja. Kasih lalu
berbalik belakang, mendorong kepala Ayu, menabrak Abror langsung kabur keatas,
tak keluar keluar kamar, tidak makan. “ Kiamat pertama mulai berlangsung”. Ibu
merasa menyesal, silap mau bercanda, "Ayu kamu kok masuk ga salam. “ Pintunya
terbuka, ketika Ayu dengar ada suara kakah Asih , jadi kami datang ke ibu”.” Ya
sudahlah, hati hati kak Asih sedang sewot, jangan dicandai dulu ya, nanti dia
marah lagi”. Ibu mengingatkan.
Ayah pulang, biasanya semua menyambut. “ Assalamualaikum”, suara Ayah besar berat keras wibawa dimata keluarga. Suara salam itu sungguh menenangkan hati. Bang bung bang bung, suara abror dan ayu istilah mereka balapan, menyambut Ayah. “ wa alaikum salam, Ayah apakabar”, Abror dan Ayu menyapa dulu duluan. “ Alhamdulillah, barokah” kata ayah. Ibu tersenyum menyambut ayah, semua mencium tangan ayah sambil mengucapkan Alhamdulillah, astagfirullah, ayah juga mengucapkan yang sama. Tadi kelihatannya ayah doa dulu sebelum masuk pintu, kalau tidak doa, pasti Ayu protes. “ Ayah ini seperti ada yang kurang?”, ayah berkata lirih sambil nyelidik berpikir meneliti. Melihat gelagat begitu, ibu tanggap. Sambil menyambar tas ayah,” ayo honey masuk dulu”, Ibu sambil memegang tangan ayah membawa masuk kekamar. Anak anak kembali dengan mainannya. Seperti biasanya setiap ayah pulang, mengambil air sembahyang dulu dan solat sunnah dua rakaat, baru bercakap cakap dengan ibu. Ibu menyediakan teh panas dan snack di taman belakang. “ oh iya, Kasih mana tak kelihatan”, ayah tanya. Ibu bicara bisik bisik, “ Kasih ada di kamar, sedang ngambek”. “Apa gara garanya?”, ayah tanya. “Salah ibu” . Ibupun menceritakan kejadiannya. “Oo.. “,ayah manggut manggut.
Ayah pulang, biasanya semua menyambut. “ Assalamualaikum”, suara Ayah besar berat keras wibawa dimata keluarga. Suara salam itu sungguh menenangkan hati. Bang bung bang bung, suara abror dan ayu istilah mereka balapan, menyambut Ayah. “ wa alaikum salam, Ayah apakabar”, Abror dan Ayu menyapa dulu duluan. “ Alhamdulillah, barokah” kata ayah. Ibu tersenyum menyambut ayah, semua mencium tangan ayah sambil mengucapkan Alhamdulillah, astagfirullah, ayah juga mengucapkan yang sama. Tadi kelihatannya ayah doa dulu sebelum masuk pintu, kalau tidak doa, pasti Ayu protes. “ Ayah ini seperti ada yang kurang?”, ayah berkata lirih sambil nyelidik berpikir meneliti. Melihat gelagat begitu, ibu tanggap. Sambil menyambar tas ayah,” ayo honey masuk dulu”, Ibu sambil memegang tangan ayah membawa masuk kekamar. Anak anak kembali dengan mainannya. Seperti biasanya setiap ayah pulang, mengambil air sembahyang dulu dan solat sunnah dua rakaat, baru bercakap cakap dengan ibu. Ibu menyediakan teh panas dan snack di taman belakang. “ oh iya, Kasih mana tak kelihatan”, ayah tanya. Ibu bicara bisik bisik, “ Kasih ada di kamar, sedang ngambek”. “Apa gara garanya?”, ayah tanya. “Salah ibu” . Ibupun menceritakan kejadiannya. “Oo.. “,ayah manggut manggut.
Berkat kearifan Ayah, Kasih tidak jadi mogok, sudah girang
lagi, seperti tidak terjadi apa apa. Mereka kembali ramai dengan persoalannya. Beberapa hari
kemudian , Kasih tetap kasih. Pulang sekolah tidak ada yang nyapa, karena tidak
ada yang tau kedatangannya, tidak salam lagi. Adiknya yang sedang makan es krim,
esnya langsung disamber dibawa kabur, padahal punya dia sudah disiapkan ibu di frezer. Karuan saja, peperangan baru
dimulai. Abon sambil teriakan histerisnya menguber Kasih.Uber uberan terjadi
sampai hingar bingar, turun naik tangga, turun naik tangga lagi, yang akhir
Bum...,suara sesuatu terbanting keras, dung dang dung dang, diiringi dengan teriakan melengking abror dan
Kasih. Kemudian ...” Ibu..”Kasih teriak memanggil ibu.
Semua pada menyerbu. Abror terlihat bersimbah darah tak
bergerak, jatuh dengan keras, kepalanya mukanya berlumuran darah mungkin kena
pinggiran tangga dengan sangat keras. Spontan Ibu melompat berlari dan hampir tak sadar lemah
merangkul Abror sambil mengucap Innalillahi wa inna ilahi rojiun, Allaaaaahu
Akbaaar. Ibu menjerit sejadinya. Semua yang disitu kaku terpatung, mau apa.
Tetangga berlarian berdatangan kerumah. Tanpa disadari , Ayah juga sudah ada
ditengah kerumunan. Tanpa bicara ini itu, Ayah langsung mengangkat Abror, langsung
masuk ke mobil, ibu dengan lemah dipegangi tetangga berusaha ikut juga sekuat
tenaga, tetangga juga ada yang ikut menemani, suasana ngeri mencekam . Iring
iringan tiga mobil mengantar , menuju IGD rumah sakit terdekat....
Habis shalat Isya, Ibu dan Ayah ada disamping Abror, yang
belum boleh bergerak. Kepala diperban dengan masih ada bercak merah darah.
Mukanya dan dekat rahangnya bengkak legam
seperti habis ditinju Tyson.
Pintu kamar terbuka perlahan..., Kasih berlutut dengan
kepala dipangkuan Ibunya, tangannya sebelah dipangkuan ayahnya. “ Ibu... Ayah”,
maafkan Kasih, semua salah Kasih. Kasih yang buat abon jadi begitu. Maafin
kasih, maafin kasih. Kasih berjanji tidak lagi seperti itu, Kasih akan selalu
mendengar patuh dengan nasihat Ibu Ayah. “ Ah enggak, salah abon”, semua
tertegun. Abroe yang tadinya tidur terlelap tib tiba bersuara pelan. Kasih pun terkejut lalu mau menubruk adiknya, mau minta maaf dan
menyesal. Untungnya Ayah waspada, spontan menahan gerakan Kasih. Karena Abon belum boleh
bergerak. Abon meneruskan, “ abon lari
pegang baju kakak asih. Kakak asih ga bisa kabur, tapi tangan ka asih gak
sengaja dorong abon. Abon jatuh jauh, deh, kebanting.” Kasih menciumi adiknya,
sambil menangis, semuanya jadi ikut tangis tangisan terharu.
“ Eh, sudah,
tidak apa apa, pelan pelan, Abon belum boleh bergerak”, ayah mengingatkan. Kasih
diangkat ayah, Abon merem lagi. Ayah Ibu mengapit Asih. Asih duduk ditengah,
Ayah nasihat agar Asih menebus kesalahannya, dengan kembali aktif mengaji
mendengar kan nasihat pak Ustad jangan meninggalkan shalat lagi. Sambil membelai rambut Kasih, ayah nasihat, "Asih sudah
besar, sudah tau mana yang baik mana yang tidak. Ustad sudah pernah
menyampaikan kalau Nabi Adam dilempar kedunia karena terpengaruh Iblis". Ayah memperhatikan reaksi Kasih. Kamar Ibu serasa sunyi membuat suasana lengang sakral, hanya sedu sedu kecil terisak isak Kasih saja yang terdengar. Iblis
tidak mau tunduk dengan perintah Allah. Dia merasa paling bagus sendiri". Ayah mengangkat Kasih duduk disampingnya. Kasih menyandarkan kepalanya di dada Ayah. " Kasih, Iblis
memilih disiksa di neraka dari pada mau mengikuti perintah Allah. Padahal kita manusia berdoa jangan sampai masuk neraka. Iblis tidak ambil pusing dengan neraka yang dijanjikan Allah bagi orang yang ingkar, sehingga Dia memilih
minta hidup didunia sampai hari kiamat, karena dendamnya pada manusia, karena
dia ditakdirkan jadi ahli neraka. Kita manusia tidak begitu, kita saling memperhatikan saling menyayangi". Kembali terdengar sengkukan Kasih, dan Ayah mengelus elus badannya, memberi semangat. "Allah menyetujuinya permintaan Iblis, siksanya ditunda sampai hari
kiamat. Jadilah Iblis itu hidup sampai sekarang , dan dia dengan pasukannya,
terus menggoda dan menghalangi anak turun Adam untuk berbuat baik, sampai
manusia saling menghancurkan". " Sampai manusia saling menghancurkan", ayah menegaskan peringatannya. "Itu komitmen Iblis dengan Allah, nak. Dia melihat kita, kita tidak bisa melihat dia,
bahkan dia diberi kemampuan oleh Allah, masuk ke pembuluh darah manusia, menggoda, agar manusia tidak
bisa berbuat kebaikan". "Jadi" , ayah berhenti sejenak sambil melihat Kasih, yang sekarang kepalanya tertunduk. "Asih
sekarang sudah melihat buktinya sendiri, Asih pasti sayang sama Abon dan tidak ada niat menyakiti Abon, tapi nyatanya...", ayah diam lagi sejenak. Kalau bukan ulah Iblis, tidak mungkin
Asih berbuat begitu, kan? Iblis mengharapkan , agar kita saling menghancurkan. Kedepan kita harus sama berhati
hati ya, dimana ada orang mau berbuat baik dia ada disitu. “. Kasih bersuara merespon, ternyata dia mengikuti nasihat ayah. Ibu yang disamping juga merasa bersalah terlambat mengatasi anak anak, terdengar lirih " astagfirullah", suara ibu. Kasih memegang tangan Ayah dan juga tangan Ibu, “Insya Allah
Kasih akan berhati hati Ayah, mau aktif, mau mengerti dan memahami ayat Alquran ayat
demi ayat dengan pak Ustad “, kembali air matanya bercucuran, " sudah nak, sudah berakhir, semua sudah baik baik saja" kata ibu . “ Syukurlah, kau sudah menyadarinya, semoga
Asih bisa jadi anak yang solihat dan barokah”, ucap Ayah Ibu hampir serempak”.
“Alhamdulillah, Amiin”, dengan air mata yang masih mengalir, Asih pamit
kekamarnya dengan penuh penyesalan, dan sambil melirik adiknya dia meninggalkan
kamar ibunya. TAMATNB:
Cerpen yang baik cerpen yang mendatangkan manfaat, mengandung pesan pesan yang menginspirasi khalayak pembaca. Mudah mudahan bermanfaat.
Subscribe to:
Comments (Atom)

