Showing posts with label tak ambil pusing. Show all posts
Showing posts with label tak ambil pusing. Show all posts

Kasih.



"Lihat adik, kakak bawa apa ini?", abror si bungsu spontan , " mau mau kak, bagi dong!" Kasih pulang sekolah bawa makanan dan memamerkan kepada adiknya. Tapi dia hanya  memamerkan saja tidak bermaksud mengasi pada  adiknya. Kasihpun senang suasana seperti  itu. “ duh.. enaknya, duh.. enaknya, mmh ..mmh.. “ dicium cium berulangkali, agar yang melihat tergiur. Karuan saja,  adiknya menjadi rewel, tak mau berhenti. Akhirnya adiknya diam , ga ambil pusing dengan dia, kembali dengan mainnya. Ketika adiknya diam sibuk dengan mainannya, tiba tiba mainan adiknya direbut dibawa lari. “kakaaaaak, jangan, kembalikan” Sibungsupun menjerit histeris minta mainanan nya kembali. Dan menangis sejadinya. Serumah terkejut, langsung memburu suara. “ Kasih kenapa adik”. Ibu dengan muka kaget bertanya ke Kasih. Dengan santai dan acuh Kasih menjawab tak ambil pusing “ Tau tuh”. “ Abror kenapa nak”. Sambil menangis, “kak Asih, “ “ Ya kenapa”, “ Mainan Abon di ambil” . “ Sih, nak”, ibu menengahi, “ kasihan adik, nangisnya sampai begitu. Tolong amal solih kembalikan, sayang”. Kasih menjawab, “ Asih tidak tau, apa masalahnya”. Kasih seperti biasa, tidak mau tanggung jawab “
 Ya sudah, tapi kalau bermain sama adik jangan saling menyakiti, kasihan dia belum paham, nak”, ibu nasihat dengan menyabarkan diri.



“ Bon, yuk nak, kita cari mainannya”. “ Abror bangkit sambil mengulurkan tangan minta disambut, dengan mata merah belepotan air mata bercampur hingus dari hidung, dan air liur. Kasih sebenarnya sayang sama adiknya, tapi caranya aneh. Mungkin dia gemes lihat adiknya lucu, tapi kalau orang lain tidak memperhatikan dirinya, pasti jadi kacau. Padahal Abon sudah berumur 5 tahun sementara Kasih sudah tidak kecil lagi sudah SMP kelas 2. Dan masih punya adik bernama Ayu 2 tahun dibawahnya. Yang satu ini moderat , suka membantu ibunya. Bahkan tetangga sangat suka padanya, karena dia suka membantu tetangga juga, kalau dilihatnya perlu bantuan, dia entengan. Kadang kadang serumah kehilangan dia , tiba tiba sore pulang sambil bawa bingkisan. “ MasyaAllah...., Ayu habis dari mana serumah mencari”, “maaf ibu, dibawa mamah,kata mamah sudah ijin”.  Mamah adalah tetangga sebelah panggilan sebanding dengan tante. Rupanya hari itu dia “diculik mamah”.
Namun Kasih harus diperhatikan lebih dari yang lain. Tidak ada kata “salah”, untuk menasihati dia. Kalau kita salah bicara, dengan memasukkan kata " dia salah", itu terjadi alamat tragedi mogok makan bakal muncul, semua orang dicembruti, muka ditekuk. Dia selalu nomer satu. Ayu tidak boleh dibilang cantik, didepannya, bisa “kiamat” suasana.

Suatu hari Kasih datang menemui ibunya, sambil bisik bisik. “ Bu, kata bu guru Asih , Asih cantik”. “ Kasih cantik kan bu?” “Lha ya anak siapa dulu",kata ibu, "tapi kecantikan, akarnya juga ada pada hati kita,nak ”, ibunya nimpali. Entah kenapa “sang ibu “ , kepleset atau bagaimana , atau ingin bercanda, ibu  njeloteh “ tapi Ayu selalu ayu”. Ga taunya “ Ayu dan Abror  ada disitu juga, muncul dari belakang tanpa diketahui mereka. : “He ..he..he”, Ayu tersenyum menunduk. Ibunya kaget. “ Tadi Ibu bilang Kasih cantik” . Kasih kesel “ Ya, betul”, kata ibu. Tapi kan Ayu, biar marah, dipanggilnya tetap Ayu” kata ibu sambil tersenyum, sudah merasakan ada gejala. Benar saja. Kasih lalu berbalik belakang, mendorong kepala Ayu, menabrak Abror langsung kabur keatas, tak keluar keluar kamar, tidak makan. “ Kiamat pertama mulai berlangsung”. Ibu merasa menyesal, silap mau bercanda, "Ayu kamu kok masuk ga salam. “ Pintunya terbuka, ketika Ayu dengar ada suara kakah Asih , jadi kami datang ke ibu”.” Ya sudahlah, hati hati kak Asih sedang sewot, jangan dicandai dulu ya, nanti dia marah lagi”. Ibu mengingatkan.
Ayah pulang,  biasanya semua menyambut. “ Assalamualaikum”, suara Ayah besar berat keras wibawa dimata keluarga. Suara salam itu sungguh menenangkan hati. Bang bung bang bung, suara abror dan ayu istilah mereka balapan, menyambut Ayah. “ wa alaikum salam, Ayah apakabar”, Abror  dan Ayu menyapa dulu duluan. “ Alhamdulillah, barokah” kata ayah. Ibu tersenyum menyambut ayah, semua mencium tangan ayah sambil mengucapkan Alhamdulillah, astagfirullah, ayah juga mengucapkan yang sama. Tadi kelihatannya  ayah doa dulu sebelum masuk pintu, kalau tidak doa, pasti Ayu protes. “ Ayah ini seperti ada yang kurang?”, ayah berkata lirih sambil nyelidik berpikir meneliti. Melihat gelagat begitu, ibu tanggap. Sambil menyambar tas ayah,” ayo honey masuk dulu”, Ibu sambil memegang tangan ayah membawa masuk kekamar. Anak anak kembali dengan mainannya. Seperti biasanya setiap ayah pulang, mengambil air sembahyang dulu dan solat sunnah dua rakaat, baru bercakap cakap dengan ibu.  Ibu menyediakan teh panas dan snack di taman belakang. “ oh iya, Kasih mana tak kelihatan”, ayah tanya. Ibu bicara bisik bisik, “ Kasih ada di kamar, sedang ngambek”.  “Apa gara garanya?”, ayah tanya. “Salah ibu” . Ibupun menceritakan kejadiannya. “Oo.. “,ayah manggut manggut.



Berkat kearifan Ayah, Kasih tidak jadi mogok, sudah girang lagi, seperti tidak terjadi apa apa. Mereka kembali  ramai dengan persoalannya. Beberapa hari kemudian , Kasih tetap kasih. Pulang sekolah tidak ada yang nyapa, karena tidak ada yang tau kedatangannya, tidak salam lagi. Adiknya yang sedang makan es krim, esnya langsung disamber dibawa kabur, padahal punya dia sudah disiapkan ibu  di frezer. Karuan saja, peperangan baru dimulai. Abon sambil teriakan histerisnya menguber Kasih.Uber uberan terjadi sampai hingar bingar, turun naik tangga, turun naik tangga lagi, yang akhir Bum...,suara sesuatu terbanting keras,  dung dang dung dang,  diiringi dengan teriakan melengking abror dan Kasih. Kemudian ...” Ibu..”Kasih teriak memanggil ibu.

Semua pada menyerbu. Abror terlihat bersimbah darah tak bergerak, jatuh dengan keras, kepalanya mukanya berlumuran darah mungkin kena pinggiran tangga dengan sangat keras. Spontan Ibu melompat berlari dan hampir tak sadar lemah merangkul Abror sambil mengucap Innalillahi wa inna ilahi rojiun, Allaaaaahu Akbaaar. Ibu menjerit sejadinya. Semua yang disitu kaku terpatung, mau apa. Tetangga berlarian berdatangan kerumah. Tanpa disadari , Ayah juga sudah ada ditengah kerumunan. Tanpa bicara ini itu, Ayah langsung mengangkat Abror, langsung masuk ke mobil, ibu dengan lemah dipegangi tetangga berusaha ikut juga sekuat tenaga, tetangga juga ada yang ikut menemani, suasana ngeri mencekam . Iring iringan tiga mobil mengantar , menuju IGD rumah sakit terdekat....

Habis shalat Isya, Ibu dan Ayah ada disamping Abror, yang belum boleh bergerak. Kepala diperban dengan masih ada bercak merah darah. Mukanya dan dekat rahangnya bengkak legam  seperti habis ditinju Tyson.

Pintu kamar terbuka perlahan..., Kasih berlutut dengan kepala dipangkuan Ibunya, tangannya sebelah dipangkuan ayahnya. “ Ibu... Ayah”, maafkan Kasih, semua salah Kasih. Kasih yang buat abon jadi begitu. Maafin kasih, maafin kasih. Kasih berjanji tidak lagi seperti itu, Kasih akan selalu mendengar patuh dengan nasihat Ibu Ayah. “ Ah enggak, salah abon”, semua tertegun. Abroe yang tadinya tidur terlelap tib tiba bersuara pelan. Kasih pun terkejut lalu mau menubruk adiknya, mau minta maaf dan menyesal. Untungnya Ayah waspada,  spontan menahan gerakan Kasih. Karena Abon belum boleh bergerak. Abon meneruskan,  “ abon lari pegang baju kakak asih. Kakak asih ga bisa kabur, tapi tangan ka asih gak sengaja dorong abon. Abon jatuh jauh, deh, kebanting.” Kasih menciumi adiknya, sambil menangis, semuanya jadi ikut tangis tangisan terharu.
 “ Eh, sudah, tidak apa apa, pelan pelan, Abon belum boleh bergerak”, ayah mengingatkan. Kasih diangkat ayah, Abon merem lagi. Ayah Ibu mengapit Asih. Asih duduk ditengah, Ayah nasihat agar Asih menebus kesalahannya, dengan kembali aktif mengaji mendengar kan nasihat pak Ustad jangan meninggalkan shalat lagi. Sambil membelai rambut Kasih, ayah nasihat, "Asih sudah besar, sudah tau mana yang baik mana yang tidak. Ustad sudah pernah menyampaikan kalau Nabi Adam dilempar kedunia karena terpengaruh Iblis". Ayah memperhatikan reaksi Kasih. Kamar Ibu serasa sunyi membuat suasana lengang sakral, hanya sedu sedu kecil terisak isak Kasih saja yang terdengar. Iblis tidak mau tunduk dengan perintah Allah. Dia merasa paling bagus sendiri". Ayah mengangkat Kasih duduk disampingnya. Kasih menyandarkan kepalanya di dada Ayah. " Kasih, Iblis memilih disiksa di neraka dari pada mau mengikuti perintah Allah. Padahal kita manusia berdoa jangan sampai masuk neraka. Iblis tidak ambil pusing dengan neraka yang dijanjikan Allah bagi orang yang ingkar, sehingga Dia memilih minta hidup didunia sampai hari kiamat, karena dendamnya pada manusia, karena dia ditakdirkan jadi ahli neraka. Kita manusia tidak begitu, kita saling memperhatikan saling menyayangi". Kembali terdengar sengkukan Kasih, dan Ayah mengelus elus badannya, memberi semangat. "Allah menyetujuinya permintaan Iblis, siksanya ditunda sampai hari kiamat. Jadilah Iblis itu hidup sampai sekarang , dan dia dengan pasukannya, terus menggoda dan menghalangi anak turun Adam untuk berbuat baik, sampai manusia saling menghancurkan". " Sampai manusia saling menghancurkan", ayah menegaskan peringatannya. "Itu komitmen Iblis dengan Allah, nak.  Dia melihat kita, kita tidak bisa melihat dia, bahkan dia diberi kemampuan oleh Allah, masuk ke pembuluh darah manusia, menggoda,  agar manusia tidak bisa berbuat kebaikan". "Jadi" , ayah berhenti sejenak sambil melihat Kasih, yang sekarang kepalanya tertunduk.  "Asih sekarang sudah melihat buktinya sendiri, Asih pasti sayang sama Abon dan tidak ada niat menyakiti Abon, tapi nyatanya...", ayah diam lagi sejenak. Kalau bukan ulah Iblis, tidak mungkin Asih berbuat begitu, kan? Iblis mengharapkan , agar kita saling menghancurkan. Kedepan kita harus sama berhati hati ya, dimana ada orang mau berbuat baik dia ada disitu. “. Kasih bersuara merespon, ternyata dia mengikuti nasihat ayah. Ibu yang disamping juga merasa bersalah terlambat mengatasi anak anak, terdengar lirih " astagfirullah", suara ibu. Kasih memegang tangan Ayah dan juga tangan Ibu, “Insya Allah Kasih akan berhati hati Ayah, mau aktif, mau mengerti dan memahami ayat Alquran ayat demi ayat dengan pak Ustad “, kembali air matanya bercucuran, " sudah nak, sudah berakhir, semua sudah baik baik saja" kata ibu . “ Syukurlah, kau sudah menyadarinya, semoga Asih bisa jadi anak yang solihat dan barokah”, ucap Ayah Ibu hampir serempak”. “Alhamdulillah, Amiin”, dengan air mata yang masih mengalir, Asih pamit kekamarnya dengan penuh penyesalan, dan sambil melirik adiknya dia meninggalkan kamar ibunya. TAMAT


NB:
Cerpen yang baik cerpen yang mendatangkan manfaat, mengandung pesan pesan yang menginspirasi khalayak pembaca. Mudah mudahan bermanfaat.