Showing posts with label Suatu Diary. Show all posts
Showing posts with label Suatu Diary. Show all posts

Suatu Diary




Diary 1
Tanggal
Hari
Jam

Suara mother natural isyarat padaku ada sms “  ass sdr2 ku mohon doanya pd Allah untuk kesembuhan Rika istri Barnas dari penyakit tumor ganas yang ada di payudara ketiak dan leher”. Ini adalah sms ponakanku Arbiatun yang sangat dekat padaku. Sudah terbayang bagaimana paniknya dia, mantu dengan dua anak yang sangat disayangi karena kesolihannya. Padahal dia mantunya adalah bidan , sedang mengambil S2 di UI Depok, dapat bea siswa dari tempatnya bekerja. Heran juga mengapa ini terjadi pada orang yang berpendidikan tinggi sampai tidak mengerti, atau setidaknya tidak merasakan sakit sebelumnya, mengapa?
Aku tak mengurus itu, merasa penting untuk segera memotivasi pada ponakanku agar dia tidak memble. Balik ku reply ,“ Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, Sabar semua, tawakal, doa, sangka baik pada Allah. Aktivitas biasa, itu bukan berarti  akhir dari segalanya. Itu tetap namanya penyakit, usaha terus, doa terus. Arbiatun harus sobar, tawakal, cari ilham barokah, kamu dituakan disitu, jangan lemah” send. Tak lama telpon berdering, kembali dia . Dikejauhan kudengar suaranya menangis keras, sambil menarik nafas menahan tangis, tak bisa bicara mau mengungkapkan kegelisahan. “ Hei “, kubilang,” jangan seperti itu, kamu tidak bisa berpikiran jernih, kalau menangis saja. Banyak juga yang seperti itu ada yang sembuh kok”. Hening sejenik, kemudian sambil menangis dia seperti maksa bicara, “ sakitnya katanya sudah sejak gadis. Tapi tak seorangpun yang tau, dipendam sendiri. Ibunya sendiri tidak tau. Rupanya dua orang adiknya meninggal penyakitnya sama, maka dia diam saja agar keluarganya tidak susah”.Arbiatun menegaskan lirih. “ Sampai sudah punya dua anak ini?” kataku. “ Yaitulah kami merasa kecewa, merasa bersalah semua, lewat dari perhatian, dikira waktu sakit, sakit biasa saja. Om tolong motivasi dia”. “Masya Allaaah” kataku. “ Yah.. kamu sabarlah ingat pesan Om tadi, InsyaAllah nanti dihubungi” . “ Alhamdulillah jazaakallahu khoiro”. “Amiin, kami akan mendoakan semua agar Allah memberi kesembuhan dan yang terbaik padanya dan keluarganya”  kataku. Diujung tilpon terdengar suara Amiin dengan derai tangis lagi.
HR