Pagi dini hari itu sangat dingin dan suasana sepi, hujanpun
yang tadinya lebat kini cenderung reda masih ada rintik rintik. Aku baru saja menyelesaikan
solat malam dan berdoa,mencek diluar kalau kondusif buat jalan pagi. Pilihanku pada
membaca Alquran saja seperti biasa kulakukan. Tapi dari tetangga sebelah aku
mendengar suara itu lagi. Suara alunan alquran yang dibaca terdengar tak wajar.
Keluar dari alur harmoni yang sewajarnya.
Bahasa hati yang sakral tanpa jalur qiroatil quran. Kadang terhenti, kadang
tertekan, kadang dengan suara tangis yang merintih. menghiba hiba, merintih
merintih seolah tak kuasa dalam kekecewaan dengan desakan hidup yang tidak
diharapkan. Jeritan dalam relungan tembok hati yang tak punya solusi. Boleh
saja itu tanpa aturan intonasi tajwid, bisa saja tak mengena dalam laras
harmoni, tapi tetap takkan berubah pada arti makna dan maksud Yang Maha Kuasa menyampaikan
itu untuk insan manusia.” Apakah setelah engkau mengatakan iman padaKU bahwa
engkau tidak akan dicoba? ( oww), sungguh akupun telah mencoba orang orang
terdahulu setelah mengatakan iman padaku; agari Aku mengetahui mana diantara
kalian yang benar jujur dan mana diantara kalian yang berdusta padaku”.
Wanita cantik itu sudah menjanda sejak anaknya baru berumur
enam bulan. Aku tahu banyak tentangnya karena orang tuanya sahabatku, tepatnya
tetangga dekatku yang selalu berbagi. Ia memang cantik , apapun yang dipakainya
dalam kulitnya yang putih kuning, bersih, pasti cocok, pakaiannya mengikuti
fashion, sebagaimana layaknya seleberitis, walau dalam material yang murahan. Seperti
sudah bergerak seirama dengan cara berjalannya yang selalu seperti berada di catwalk,tak terpengaruh dengan
moodnya, namun dalam aroma jilbab muslim yang anggun. Dia memang keluaran
sekolah sekertaris, dan pernah bekerja menjadi sekertaris suatu perusahaan.
Suaminya almarhum memang ganteng aku sempat tahu itu. Suami istri tergolong
orang yang taat beragama. Sejak suaminya
berpulang menghadap keharibaan Illahi Robbi, dia tinggal serumah dengan orang tuanya. Diduga
menderita kanker, tanpa sebelumnya diketahui.
Ketika cinta yang baru saja berbuah, dengan hadirnya buah
hati yang ditunggu tunggu, kasih sayangnya terrenggut oleh vonis ajal untuk
selamanya. Simungil hadir tanpa akan mengenal ayahnya, dan tak akan tahu akan
berada ditengah tengah dera hempasan
hidup tak bersahabat. Siapapun tak tahu datangnya takdir. Itu bisa terjadi pada
siapa saja. Maka, pantaslah kita yang hidup ini, aware dengan peringatan
Rasulullah SAW” akan ingatlah lima sebelum lima”. Diantaranya ingatlah hidup
sebelum matimu, kemana engkau setelah mati. Fa aina tazdhabun. Dan semua
manusia pasti akan selalu menjalani qodar Allah. Kadang orang itu diberi nikmat,
dilain waktu orang mendapat cobaan, kesempatan lain orang berbuat salah dan
adakalanya orang akan mengalami musibah.
Musibah harus dihadapi dengan sabar tawakal alallah. Tapi kadang tak semua orang bisa menjalani dengan sempurna, apalagi tidak dibarengi dengan keyakinan janji Allah yang memberi pahala luar biasa pada orang yang sabar dalam musibah. Aku tahu apa pesan RasulullahSAW tentang ini tapi terlalu panjang bila ku ukirkan seperti sedang berdakwah. Cuma intinya andai orang ditunjukkan pahalanya orang yang dapat musibah, pasti orang itu minta diberi musibah lagi, minta diberi musibah lagi, tinimbang ia diberi harta dunia. Allah Maha Pengasih dan Penyayang pada hamba Nya yang iman.
Nestapa tetangga ini membuat aku khusuk membaca Alquran, yang terhenti ketika “ power of love” dari hpku tanda matahari terbit. Kubiarkan celine dion dengan lyricsnya sampai habis ....” We're heading for something, Somewhere I've never been, Sometimes I am frightened
But I'm ready to learn, Of the power of love”....dengan lengkingan akhirnya yang dihabisi dengan melankolis, desah kelelahan.
Perbedaan karakter yang tidak dimengerti dalam kudus syahdu, misterinya jiwa manusia.
Musibah harus dihadapi dengan sabar tawakal alallah. Tapi kadang tak semua orang bisa menjalani dengan sempurna, apalagi tidak dibarengi dengan keyakinan janji Allah yang memberi pahala luar biasa pada orang yang sabar dalam musibah. Aku tahu apa pesan RasulullahSAW tentang ini tapi terlalu panjang bila ku ukirkan seperti sedang berdakwah. Cuma intinya andai orang ditunjukkan pahalanya orang yang dapat musibah, pasti orang itu minta diberi musibah lagi, minta diberi musibah lagi, tinimbang ia diberi harta dunia. Allah Maha Pengasih dan Penyayang pada hamba Nya yang iman.
Nestapa tetangga ini membuat aku khusuk membaca Alquran, yang terhenti ketika “ power of love” dari hpku tanda matahari terbit. Kubiarkan celine dion dengan lyricsnya sampai habis ....” We're heading for something, Somewhere I've never been, Sometimes I am frightened
But I'm ready to learn, Of the power of love”....dengan lengkingan akhirnya yang dihabisi dengan melankolis, desah kelelahan.
Perbedaan karakter yang tidak dimengerti dalam kudus syahdu, misterinya jiwa manusia.
.....Sebentar lagi
sudah bisa menjalankan solat dhuha. Hujan masih rintik rintik diluar,
aku tak mau berisiko untuk keluar di usia yang tidak muda ini.
Aku memilih aktivitas dalam rumah, tapi pisang goreng dan ketan serta secangkir kopi dosis rendah muncul menghampiri dari wanita setengah tua yang sobar dan setia istriku yang mengerti kebiasaan orang medan.
“Ayah sungguh kasihan nak Bungahati”, istriku berkata lirih. “Ada apa ibu”. “ Ya, kadang ia tegar, kadang ia melamun, kadang ia menangis. Ibunya tak habis habis mengalirkan air mata bila menceritakannya. Kata ibunya dia mau kerja , anaknya tidak ada yang merawat, tidak kerja anaknya perlu susu dan dia sendiri perlu biaya.” Memang terlalu berat semuanya buat dibebankan pada ibu bapaknya yang telah pensiunan dengan rate dibawah garis kemiskinan. Haripun berlalu...
Seorang dokter yang tidak muda , duapuluhlimatahunan diatas Bunga Hati; datang dengan maksud baik. Gelombang laut sedang diatas dan tak selama diatas dan akan kembali turun dan naik lagi. Irama kehidupan menerpa anak turun Adam silih berganti ila yaumil qiamah.
Dalam suasana sakral ditengah tengah para tamu terbatas, pak Sabri orang tua Bunga Hati berhadapan dengan anaknya dan sang dokter. Disaksikan oleh semua yang hadir pak Sabri dengan tegarnya memegang tangan anaknya. “Nak, untuk akhir kalinya ayah mau bertanya padamu, agar kita tidak saling menyesal. Sekarang engkau masih bisa bilang tidak, agar acara ini tidak dilanjutkan. Ayah akan batalkan acara ini.” Bunga hanya tunduk menangis. “ Engkau tau nak, wanita solihat, ketika wanita menikah, baktinya pindah dari orang tua ke suaminya. Susah senangmu, problemmu engkau bahas bersama suamimu tidak dengan ayah. Apakah engkau sanggup toat dan takzim pada suamimu mengingat umurnya jauh lebih tua dan kesibukannya luar biasa jauh diluar kota?” Disela sela tangis Bunga, terdengar ucapan “Insya Allah”.. Karuan seluruh hadirin ikut mencucurkan air mata, termasuk aku. Tangan pak Sabri terlihat menggeletar apa artinya, tidak kumengerti mungkin menahan emosi tinggi yang tak menentu. Sang dokter juga terlihat menangis. Dan pak Sabri beralih menanya kepada calon mantu. “ Saudara dr Herman, manusia dengan segala kekurangannya, dalam perjalanan berumah tangga, anda melihat kekurangan istri anda, apakah saudara tetap mencintai istri anda mau sabar tetap nasihat dan tetap meramutnya, utamanya keimanannya dan juga bisa tetap memenuhi kewajiban anda sebagai suami?”
Aku memilih aktivitas dalam rumah, tapi pisang goreng dan ketan serta secangkir kopi dosis rendah muncul menghampiri dari wanita setengah tua yang sobar dan setia istriku yang mengerti kebiasaan orang medan.
“Ayah sungguh kasihan nak Bungahati”, istriku berkata lirih. “Ada apa ibu”. “ Ya, kadang ia tegar, kadang ia melamun, kadang ia menangis. Ibunya tak habis habis mengalirkan air mata bila menceritakannya. Kata ibunya dia mau kerja , anaknya tidak ada yang merawat, tidak kerja anaknya perlu susu dan dia sendiri perlu biaya.” Memang terlalu berat semuanya buat dibebankan pada ibu bapaknya yang telah pensiunan dengan rate dibawah garis kemiskinan. Haripun berlalu...
Seorang dokter yang tidak muda , duapuluhlimatahunan diatas Bunga Hati; datang dengan maksud baik. Gelombang laut sedang diatas dan tak selama diatas dan akan kembali turun dan naik lagi. Irama kehidupan menerpa anak turun Adam silih berganti ila yaumil qiamah.
Dalam suasana sakral ditengah tengah para tamu terbatas, pak Sabri orang tua Bunga Hati berhadapan dengan anaknya dan sang dokter. Disaksikan oleh semua yang hadir pak Sabri dengan tegarnya memegang tangan anaknya. “Nak, untuk akhir kalinya ayah mau bertanya padamu, agar kita tidak saling menyesal. Sekarang engkau masih bisa bilang tidak, agar acara ini tidak dilanjutkan. Ayah akan batalkan acara ini.” Bunga hanya tunduk menangis. “ Engkau tau nak, wanita solihat, ketika wanita menikah, baktinya pindah dari orang tua ke suaminya. Susah senangmu, problemmu engkau bahas bersama suamimu tidak dengan ayah. Apakah engkau sanggup toat dan takzim pada suamimu mengingat umurnya jauh lebih tua dan kesibukannya luar biasa jauh diluar kota?” Disela sela tangis Bunga, terdengar ucapan “Insya Allah”.. Karuan seluruh hadirin ikut mencucurkan air mata, termasuk aku. Tangan pak Sabri terlihat menggeletar apa artinya, tidak kumengerti mungkin menahan emosi tinggi yang tak menentu. Sang dokter juga terlihat menangis. Dan pak Sabri beralih menanya kepada calon mantu. “ Saudara dr Herman, manusia dengan segala kekurangannya, dalam perjalanan berumah tangga, anda melihat kekurangan istri anda, apakah saudara tetap mencintai istri anda mau sabar tetap nasihat dan tetap meramutnya, utamanya keimanannya dan juga bisa tetap memenuhi kewajiban anda sebagai suami?”
Empat tahun berlalu seperti berlari, semua ingatan akan
upacara sakral serasa belum sirna, Buah Hati sudah memiliki putra dari dr
Herman dan tinggal dirumah sewaan. Rasa hati tak nyaman orang tuanya sangat
kangen pada anaknya, tanpa pemberitahuan keduanya mengunjungi tempatnya.
Sesampainya , orang tuanya terkejut rumahnya sepi tidak ada orang, sayup sayup
kedengaran suara bayi kedengaran dari dalam. Kedua suami istri tidak bisa
dihubungi. Tetangganya ikut gaduh, orang tuanya kebingungan harus bagaimana
membongkar rumah sewaan orang. Seorang tetangga yang baru pulang entah dari
mana memberitahukan, bahwa Bunga Hati dipanggil suaminya sebentar, sudah pergi
dari tadi pagi pagi. Dengan pertolongan yang punya kontrakan, pintu berhasil
dibuka, kemudian menyelamatkan anaknya yang mungkin sudah kehausan dan
kelaparan. Sejam lebih kemudian barulah Buah Hati muncul dengan wajah kusut,
lesu, lelah susah bercampur jadi satu lebih susah dan lesu dibandingkan ibu ibu
petani miskin yang pulang dari habis
menggarap sawah orang lain. Ibu ayahnya tidak menanyakan apa apa, tapi Buah
Hati sendiri bercerita setelah dia menyelesaikan solat dhuhurnya. “ Ibu ayah,
sepertinya rumah tangga ini sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Mas Herman
ternyata tidak menetapi semua janji janjinya, bagaimana layaknya sebagai
seorang suami yang bertanggung jawab”, Buah Hati sudah mulai meneteskan air
matanya. Ayah bangun dari tempat duduknya, menarik nafas berat sesuai usianya
yang lanjut. Matanya menyoroti sekeliling kamar, seperti menghitung apa yang
ada. Tidak ada lemari pakaian, tidak sofa. Yang terlihat hanya beberapi
beberapa piring dan gelas kompor tergeletak dilantai. Pak Sabri bergedek gedek
sendiri dia menggelengkan kepalanya . Memang selama ini Buah Hati betul betul menutup
rapat keadaan rumah tangganya. “ Mas Herman hanya beberapa bulan datang kesini,
ayah. Sesudah itu sayalah yang harus mendatangi dia di tempat prakteknya, kalau
Buah hati tidak datang , kebutuhan rumah tangga seperti susu si kecil tidak
akan diberi, jadi saya mengalah. Tapi tadi sudah sampai klimaknya. Saya
menanyakan perihal berumah tangga sewajarnya sesuai janji janjinya.” Buah hati
berhenti sejenak menyeka air matanya dengan tangannya yang lunglai tak
bertenaga, sejak pagi belum tersentuh apapun, mengingat anaknya kehabisan susu
dan suaminya belum memberi. Tidak seperti dulu walau derita menemaninya
wajahnya seperti kembang matahari kuning
tersenyum berseri tertimpa cahaya
matahari pagi, karena dia tetap telaten merawat dirinya. “ Mas Herman tidak suka
dengan ucapan saya”, katanya meneruskan. “Bahkan dengan mudahnya dia
mengucapkan kata menceraikan saya dengan talak tiga.” Serempak kedua orang
tuanya mengucapkan“ innalillahi wa inna ilahi rojiun, masya Allah”. Kedengaran
seperti petir disiang hari tanpa ada isyarat mendung gelap. Masih untung pak
Sabri masih tegar didalam airmuka yang merah padam, terlihat geram ditahan. Ibu
dan anak rangkul rangkulan , menangis mengeluarkan kepedihan yang amat sangat.
Kini alunan lantunan AlQuran itu terdengar lagi, kini memasuki babak baru, tapi tetap tanpa harmoni dan tanpa kesetiaan akan keseimbangan tajwid, namun arti makna maksudnya tidak akan berubah karena Allah berjanji tetap akan mengawal kemurniannya, “ wahai orang orang yang beriman janganlah kamu putus asa dari rachmat Allah. Sesungguhnya bumiku sangat luas...” TAMAT
Kini alunan lantunan AlQuran itu terdengar lagi, kini memasuki babak baru, tapi tetap tanpa harmoni dan tanpa kesetiaan akan keseimbangan tajwid, namun arti makna maksudnya tidak akan berubah karena Allah berjanji tetap akan mengawal kemurniannya, “ wahai orang orang yang beriman janganlah kamu putus asa dari rachmat Allah. Sesungguhnya bumiku sangat luas...” TAMAT